Judul di atas merupakan sebuah
filosofi dari kisah cintaku, bayangkan jika kita membangun rumah tapi tidak ada
pintu untuk masuk di dalamnya ? pastinya kita tidak bisa merasakan bagaimana
nyamannya di dalam rumah tersebut dan hanya bisa memandangi rumah tersebut dari
luar sehingga lambat laun kita akan meninggalkan rumah itu. Seperti itulah
kisah cintaku yang terakhir aku rajut bersama seorang wanita yang kucinta
begitu lama. Kita membangun rumah cinta bersama – sama, rumah yang begitu besar
dan megah bahkan kita bercita – cita untuk bisa tinggal bersama suatu saat
nanti namun saat rumah itu jadi kita tidak membangun pintu tersebut sehingga
kita tidak bisa merasakan nyamannya perjuangan cinta kita. Meskipun pada
awalnya kita sering bertengkar, salah paham, konflik yang tanpa henti namun
kita masih bisa saling menyayangi namun seiringnya waktu masing – masing dari
kita mulai jujur dengan perasaan masing – masing bahwa sebenarnya kita tidak
kuat lagi menahan kekurangan pasangan.
Rumah yang kita bangun bersama
seakan hanya ilusi sebuah kebahagian, dimana seharusnya aku bisa menerima
kekurangannya tapi aku memilih untuk bertahan dan akhirnya tidak bisa
menyanggupinya lagi. Begitu juga dengan dirinya yang sudah mulai bosan dengan
hubungan seperti ini karena sifatku yang amat jauh dari harapannya. Memang sudah
sepantasnya dia menerima kebahagiaan yang jauh lebih indah tanpa diriku dan
sudah selayaknya pula dia menentukan impian bersama orang yang dia percaya
untuk membawanya bahagia bersama.
Meski menurut dia rumah yang kita
bangun ini adalah gambaran yang akan dihilangkan dari ingatannya dan merupakan
kesalahan terbodoh dalam hidupnya. Namun aku membangun ini dengan tulus dan
ikhlas maka selamanya aku akan mengingatnya, menjaganya dan menjadikan sebuah
sejarah hidupku yang pernah bahagia bersamamu karena sampai kapanpun engkau
tetaplah seorang wanita yang pernah aku cintai di saat senang maupun susah dan
aku juga sangat berterima kasih padanya karena selama aku mengenal dia ada
begitu banyak hal menarik yang aku dapat. Begitu juga aku ingin mohon maaf
sebesar – besarnya pada dirinya karena tidak bisa membuat dia bahagia sampai
akhir perjuangan ini. Semoga dirimu dan kebahagiaan terus bersamamu di saat
lapang maupun sempit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar